Akhirnya
selesai juga membaca novel karya Tere Liye ini. Walaupun buku ini saya peroleh
dari meminjam di perpustakaan kota, walaupun terlambat membaca buku keluaran
tahun 2009 ini, sungguh amat terlambat kayaknya. Sekarang tahun 2015 dan sudah
tertera delapan kali cetakan, tapi saya tetap merasa puas setelah membacanya.
Adapun keinginan membeli buku tersebut telah membuat saya membuka website
tbodelisa. Mengirim format pemesanan buku RTDW lewat nomor handphone yang telah
disediakan di web. Menunggu balasan dan setelah mereka membalas sekali, bertanya
di kecamatan mana saya tinggal?, lalu saya balas, tapi sampai sekarang
tidak ada balasan lagi. Saya maklumi, mungkin mereka sangat sibuk mengurus buku-buku
mereka. Bagaimana tidak, novel-novel karya Darwis Tere Liye terbilang sangat
laris, best seller, dan beberapa sudah difilmkan.
Sambil menunggu
sebagai gantinya saya membeli buku Tere Liye yang lain di toko buku kota saya,
judulnya Rindu. Lagian di toko tersebut Novel RTDW tidak saya temukan,
sangking larisnya mungkin ya atau lagi-lagi saya terlambat.
Lima pertanyaanlima jawaban. Saya tidak akan memaparkan sinopsis novel ini, di internet sudah
ada banyak. Jarak 6 tahun setelah penerbitan pasti ada puluhan bahkan mungkin
ratusan, bisa sobat cari di google.
Lima pertanyaan
dan lima jawaban dari yang disebutkan di novel RTDW-lah yang akan saya
sampaikan di sini. Dialog antara Ray dan Orang Dengan Wajah Menyenangkan.
Dan kalimat-kalimatnya
saya ambil langsung dari novel serta sedikit saya modifikasi dengan gaya bahasa
saya sendiri.
Kenapa Ray
harus menghabiskan masa kanak-kanak di panti asuhan tersebut? Apakah Ray memang
tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih?
Apakah kami
memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih saat akan dilahirkan?
Dari yang
paling kecil sampai yang paling besar urusan di dunia ini baik itu yang ada di
langit maupun di bumi semuanya sudah ditentukan, dan bagaimana mungkin urusan
manusia luput dari ketentuan. Bagi binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda
mati kehidupan adalah sebab-akibat. Mereka hanya menjalani hukum alam yang
sudah ditentukan. Setandan buah pisang masak-menguning setelah sekian hari,
setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian hari, seekor buaya ditentukan
jenis kelaminnya berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami. Tidak ada
yang melanggar aturan main itu. Tidak ada buah pisang yang masak lebih cepat.
Bunga melati yang layu lebih lama. Atau anak buaya yang menjadi pejantan
padahal suhu udara induk mengeraminya memastikannya menjadi betina. Hukum alam.
Sebab-akibat.
Bagi manusia,
hidup ini juga sebab-akibat. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk
peta dengan ukuran raksasa. Kehidupan kita menyebabkan perubahan garis keturunan
orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang
lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis
kehidupan kita.. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi.
Lalu mengapa
Ray harus menjalani masa kanak-kanak yang seharusnya indah justru di Panti
menyebalkan tersebut? Karena Ray menjadi sebab bagi garis kehidupan Diar. Anak kecil
ringkih, lemah dan polos yang menjemput maut dengan baik.
Terbaring di
rumah sakit, setelah dikeroyok di terminal kota. Setelah Diar dituduh sebagai
pencurinya. Setelah Ray mengambil celana seorang sopir yang didalam sakunya
terdapat banyak uang. Ray yang menjadi sebab itu semua, Diar dituduh, dipukuli,
dan hampir dibakar oleh orang-orang di terminal. Hingga terbaring di rumah
sakit, hingga akhirnya maut menjemputnya.
Sebelum Diar
meninggal, dalam keadaan sekarat dia siuman dan bertanya kepada penjaga panti,
bagaimana keadaan Ray? apakah Ray baik-baik saja? Dia lebih mengkhawatirkan Ray
daripada dirinya sendiri.
Ray yang selalu
membelanya, melindunginya, mengaku dirinyalah yang merusak tasbih milik penjaga
panti yang dirusak oleh Diar, mengakibatkan Ray dihukum oleh penjaga panti.
Saat Ray tak
sadarkan diri Diar menceritakan kejadian yang sebenarnya pada penjaga panti,
mengaku kalau dialah yang merusak tasbih kesayangannya. Diar minta maaf atas
perbuatannya itu.
Diar sebenarnya
anak yang baik, paling penurut di panti tersebut. Hingga akhirnya diusia yang
amat muda dia meninggal dengan membawa kebaikan.
Apakah hidup
ini adil?
Hampir semua
manusia pernah mengeluarkan pertanyaan tersebut. Dari jaman batu hingga entah
ke mana peradaban manusia akan dibawa. Mereka pasti pernah bertanya, setidaknya
sekali seumur hidup. Tidak peduli meski dia adalah manusia pilihan.
Namun
pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan pemicu
kenapa dia sampai bertanya. Maka jawabannya harus sesuai dengan pemicunya itu.
Adapun
pertanyaan Ray dalam novel RTDW ini dipicu karena potongan koran tua. Potongan
koran tersebut dia dapat saat mencuri barang-barang milik penjaga panti. Isinya
mengenai berita kebakaran rumah milik orang tua Ray. Dia saat itu masih bayi
dan selamat dari kebakaran tersebut sedangkan orang tuanya tidak terselamatkan.
Kejadian buruk
itu datang sesuai takdir langit. Ray tidak mungkin mencegahnya, tidak mungkin
membalas pelaku kebakaran tersebut. Ketika Ray tidak mampu membalasnya ke orang
yang menjadi penyebabnya, tidak bisa membalasnya ke Tuhan, maka Ray membalasnya
dalam bentuk lain. Menjadi orang jahat. Ray membalasnya menjadi alasan atas
kelakuan buruk mereka. Padahal, berbagai kejadian menyakitkan itu sesuatu yang
tidak tercegahkan. Kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian
pasti terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu menggagalkan.
Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian niscaya
tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu
melaksanakannya.
Hanya ada satu
hal yang bisa mencegahnya. Satu hal, sama seperti siklus sebab-akibat
sebelumnya, yaitu: berbagi. Ya, berbagi apa saja dengan orang lain.
Tidak. Sebenarnya berbagi tidak bisa mencegahnya secara langsung, tapi dengan
berbagi akan membuat hati merasa damai. Hanya orang-orang dengan hati damailah
yang bisa menerima kejadian buruk dengan lega. Sayangnya Ray tidak pernah
berdamai dengan hatinya. Sehingga dia menganggap hidup ini tidak adil... Padahal
sebenarnya hidup ini sangatlah adil.
Kenapa langit
tega sekali mengambil istri Ray. Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?
Hampir semua
orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya, amat berharga malah.
Ada yang kehilangan sebagian tubuh mereka, cacat, kehilangan pekerjaan,
kehilangan anak, orang-tua, benda-benda berharga, kekasih, kesempatan,
kepercayaan, nama baik dan sebagainya. Ray kehilangan istri yang amat dicintai.
Semua kehilangan itu menyakitkan.
Apapun
kehilangan itu cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang
pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan.. Dalam kasus Ray, sehingga muncul
pertanyaan ketiga ini adalah karena Ray lebih memahami kehilangan dari sisi
dirinya sendiri bukan memahami dari sisi istrinya.
Kalau Ray
memaksakan diri memahaminya dari sisi dirinya, maka dia akan mengutuk Tuhan,
hanya mengembalikan masa-masa gelap. Bertanya apakah belum cukup semua
penderitaan yang Ray alami. Bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan
orang-orang baik, dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat.
Ketahuilah jika
Ray memahami dari sisi istrinya. Istrinya memiliki tujuan yang mulia,
benar-benar ingin menjadi istri yang baik untuk Ray, menjadi istri yang baik
untuk anak-anak Ray. Istrinya tidak pandai ilmu agama, ia baru belajar itu
semua saat mereka menikah. Tapi dia paham sebuah kalimat yang indah, nasehat
pernikahan mereka yang disampaikan oleh penghulu: Istri yang ketika
meninggal dan suaminya ridha padanya, maka pintu-pintu surga dibukakan
lebar-lebar baginya.
Saat itulah,
saat malam takbir hari raya, istri Ray meninggal dengan amat mulia. Mendapatkan
tujuan hidupnya, ia mengubur semua masa lalunya yang kelam. Ia telah
mendapatkan ridha suaminya.
Kenapa tuhan
selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hambanya, apa semua kesedihan
ini kurang menyakitkan? Orang-orang yang memiliki tujuan hidup, maka dia tidak
akan pernah bertanya soal ini. Baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah
tempaan, harga tujuan tersebut. Semua orang bisa mendefinisikan tujuan
hidupnya, istri Ray ingin ridhanya, seorang anaknya berhasil, menjadi dokter,
insinyur, itu semua tujuan hidup. Tidak peduli secuil apapun itu, yang penting
mereka bersungguh-sungguh melakukannya. Membuatnya nyata.
Hidup terasa
hampa, kosong?
Ternyata semua
yang Ray miliki tidak pernah memberikan kebahagiaan seperti yang Ray dapatkan
selama enam tahun bersama istrinya, padahal setelah istrinya meninggal Ray
memiliki segalanya. Ray terjebak keinginan-keinginan dunia. Dia mencintai dunia
persis seperti sekerumunan orang-orang lainnya yang amat keterlaluan
mencintainya. Dan lazimnya para pecinta dunia itu, maka sungguh dia tidak akan
pernah terpuaskan oleh yang bisa disediakan dunia. Ray berpikir setelah
mendirikan gedung tertinggi maka akan merasa lelah, cukup, bahkan puas. Ray
tidak akan pernah menemukannya disana. Ray hanya akan menemukan kekosongan,
hampa.
Padahal ada
seseorang yang hatinya amat berkilau oleh perasaan cukup. Dan orang itu adalah
istrinya sendiri. Istrinya pernah berkata: “Aku baik-baik saja, ceroboh. Aku
senang mendengarnya. Amat senang. Tapi aku tidak membutuhkan itu semua. Rumah
besar, mobil, berlian. Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu.
Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup.”
Kenapa Ray
harus mengalami sakit berkepanjangan? Kenapa takdir sakit itu mengungkungnya?
Ketika merasa
hidup ini menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya
kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik, janji-janji, masa depan. Dan
sebaliknya, ketika merasa hidup sangat menyenangkan dan selalu merasa kurang
dengan kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada
yang lebih tidak beruntung. Dengan begitu kau akan selalu pandai bersyukur.
Suatu malam
ketika Ray akan menuju ke rumah sakit menemui Vin yang sekarat, disaat hampir
saja melewati perempatan menuju lokasi bangunan panti, Ray membanting stir
kemudi. Dia memutar arah, lantas meneruskan perjalanan.
Malam itu Ray
tahu hampir bertabrakan dengan mobil yang melaju tidak kalah kencangnya di sisi
yang lain. Mobil yang hampir menabrak Ray itu membanting stir dan oleng tidak
terkendali lantas menghantam jeruji besi yang menyeruak dari tepi jalan.
Sementara Ray sudah melesat pergi.
Bagian depan
mobil itu hancur, dua orang di dalamnya terjepit, sepasang suami-istri. Ray
tidak sakit berkepanjangan selama enam tahun karena menyebabkan kematian
sepasang suami-istri itu. Tetapi lebih disebabkan oleh seorang bayi yang
dikandung perempuan di dalam mobil tersebut. Mayat perempuan itu buncit. Ia
sedang mengandung.
Bayi itu
terselamatkan, seorang gadis, lahir berdarah-darah sehari setelah kecelakaan.
Terlahir yatim piatu. Gadis kecil itu lebih menyakitkan dan Raylah penyebabnya.
Sumber: Novel
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu Karya Tere Liye
Jangan lupa
untuk beli novelnya ya.... Saya jamin sobat sekalian akan merasa puas setelah
membaca novel-novel karya Tere Liye.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar