Sabtu, 08 Agustus 2015

Lima Pertanyaan Dalam Novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu


Akhirnya selesai juga membaca novel karya Tere Liye ini. Walaupun buku ini saya peroleh dari meminjam di perpustakaan kota, walaupun terlambat membaca buku keluaran tahun 2009 ini, sungguh amat terlambat kayaknya. Sekarang tahun 2015 dan sudah tertera delapan kali cetakan, tapi saya tetap merasa puas setelah membacanya. Adapun keinginan membeli buku tersebut telah membuat saya membuka website tbodelisa. Mengirim format pemesanan buku RTDW lewat nomor handphone yang telah disediakan di web. Menunggu balasan dan setelah mereka membalas sekali, bertanya di kecamatan mana saya tinggal?, lalu saya balas, tapi sampai sekarang tidak ada balasan lagi. Saya maklumi, mungkin mereka sangat sibuk mengurus buku-buku mereka. Bagaimana tidak, novel-novel karya Darwis Tere Liye terbilang sangat laris, best seller, dan beberapa sudah difilmkan.
Sambil menunggu sebagai gantinya saya membeli buku Tere Liye yang lain di toko buku kota saya, judulnya Rindu. Lagian di toko tersebut Novel RTDW tidak saya temukan, sangking larisnya mungkin ya atau lagi-lagi saya terlambat.
Lima pertanyaanlima jawaban. Saya tidak akan memaparkan sinopsis novel ini, di internet sudah ada banyak. Jarak 6 tahun setelah penerbitan pasti ada puluhan bahkan mungkin ratusan, bisa sobat cari di google.
Lima pertanyaan dan lima jawaban dari yang disebutkan di novel RTDW-lah yang akan saya sampaikan di sini. Dialog antara Ray dan Orang Dengan Wajah Menyenangkan.
Dan kalimat-kalimatnya saya ambil langsung dari novel serta sedikit saya modifikasi dengan gaya bahasa saya sendiri.

Kenapa Ray harus menghabiskan masa kanak-kanak di panti asuhan tersebut? Apakah Ray memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih?
Apakah kami memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih saat akan dilahirkan?
Dari yang paling kecil sampai yang paling besar urusan di dunia ini baik itu yang ada di langit maupun di bumi semuanya sudah ditentukan, dan bagaimana mungkin urusan manusia luput dari ketentuan. Bagi binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati kehidupan adalah sebab-akibat. Mereka hanya menjalani hukum alam yang sudah ditentukan. Setandan buah pisang masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian hari, seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami. Tidak ada yang melanggar aturan main itu. Tidak ada buah pisang yang masak lebih cepat. Bunga melati yang layu lebih lama. Atau anak buaya yang menjadi pejantan padahal suhu udara induk mengeraminya memastikannya menjadi betina. Hukum alam. Sebab-akibat.
Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupan kita menyebabkan perubahan garis keturunan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupan kita.. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi.
Lalu mengapa Ray harus menjalani masa kanak-kanak yang seharusnya indah justru di Panti menyebalkan tersebut? Karena Ray menjadi sebab bagi garis kehidupan Diar. Anak kecil ringkih, lemah dan polos yang menjemput maut dengan baik.
Terbaring di rumah sakit, setelah dikeroyok di terminal kota. Setelah Diar dituduh sebagai pencurinya. Setelah Ray mengambil celana seorang sopir yang didalam sakunya terdapat banyak uang. Ray yang menjadi sebab itu semua, Diar dituduh, dipukuli, dan hampir dibakar oleh orang-orang di terminal. Hingga terbaring di rumah sakit, hingga akhirnya maut menjemputnya.
Sebelum Diar meninggal, dalam keadaan sekarat dia siuman dan bertanya kepada penjaga panti, bagaimana keadaan Ray? apakah Ray baik-baik saja? Dia lebih mengkhawatirkan Ray daripada dirinya sendiri.
Ray yang selalu membelanya, melindunginya, mengaku dirinyalah yang merusak tasbih milik penjaga panti yang dirusak oleh Diar, mengakibatkan Ray dihukum oleh penjaga panti.
Saat Ray tak sadarkan diri Diar menceritakan kejadian yang sebenarnya pada penjaga panti, mengaku kalau dialah yang merusak tasbih kesayangannya. Diar minta maaf atas perbuatannya itu.
Diar sebenarnya anak yang baik, paling penurut di panti tersebut. Hingga akhirnya diusia yang amat muda dia meninggal dengan membawa kebaikan.

Apakah hidup ini adil?
Hampir semua manusia pernah mengeluarkan pertanyaan tersebut. Dari jaman batu hingga entah ke mana peradaban manusia akan dibawa. Mereka pasti pernah bertanya, setidaknya sekali seumur hidup. Tidak peduli meski dia adalah manusia pilihan.
Namun pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan pemicu kenapa dia sampai bertanya. Maka jawabannya harus sesuai dengan pemicunya itu.
Adapun pertanyaan Ray dalam novel RTDW ini dipicu karena potongan koran tua. Potongan koran tersebut dia dapat saat mencuri barang-barang milik penjaga panti. Isinya mengenai berita kebakaran rumah milik orang tua Ray. Dia saat itu masih bayi dan selamat dari kebakaran tersebut sedangkan orang tuanya tidak terselamatkan.
Kejadian buruk itu datang sesuai takdir langit. Ray tidak mungkin mencegahnya, tidak mungkin membalas pelaku kebakaran tersebut. Ketika Ray tidak mampu membalasnya ke orang yang menjadi penyebabnya, tidak bisa membalasnya ke Tuhan, maka Ray membalasnya dalam bentuk lain. Menjadi orang jahat. Ray membalasnya menjadi alasan atas kelakuan buruk mereka. Padahal, berbagai kejadian menyakitkan itu sesuatu yang tidak tercegahkan. Kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian pasti terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu menggagalkan. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya.
Hanya ada satu hal yang bisa mencegahnya. Satu hal, sama seperti siklus sebab-akibat sebelumnya, yaitu: berbagi. Ya, berbagi apa saja dengan orang lain. Tidak. Sebenarnya berbagi tidak bisa mencegahnya secara langsung, tapi dengan berbagi akan membuat hati merasa damai. Hanya orang-orang dengan hati damailah yang bisa menerima kejadian buruk dengan lega. Sayangnya Ray tidak pernah berdamai dengan hatinya. Sehingga dia menganggap hidup ini tidak adil... Padahal sebenarnya hidup ini sangatlah adil.

Kenapa langit tega sekali mengambil istri Ray. Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?
Hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya, amat berharga malah. Ada yang kehilangan sebagian tubuh mereka, cacat, kehilangan pekerjaan, kehilangan anak, orang-tua, benda-benda berharga, kekasih, kesempatan, kepercayaan, nama baik dan sebagainya. Ray kehilangan istri yang amat dicintai. Semua kehilangan itu menyakitkan.
Apapun kehilangan itu cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan.. Dalam kasus Ray, sehingga muncul pertanyaan ketiga ini adalah karena Ray lebih memahami kehilangan dari sisi dirinya sendiri bukan memahami dari sisi istrinya.
Kalau Ray memaksakan diri memahaminya dari sisi dirinya, maka dia akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan masa-masa gelap. Bertanya apakah belum cukup semua penderitaan yang Ray alami. Bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan orang-orang baik, dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat.
Ketahuilah jika Ray memahami dari sisi istrinya. Istrinya memiliki tujuan yang mulia, benar-benar ingin menjadi istri yang baik untuk Ray, menjadi istri yang baik untuk anak-anak Ray. Istrinya tidak pandai ilmu agama, ia baru belajar itu semua saat mereka menikah. Tapi dia paham sebuah kalimat yang indah, nasehat pernikahan mereka yang disampaikan oleh penghulu: Istri yang ketika meninggal dan suaminya ridha padanya, maka pintu-pintu surga dibukakan lebar-lebar baginya.
Saat itulah, saat malam takbir hari raya, istri Ray meninggal dengan amat mulia. Mendapatkan tujuan hidupnya, ia mengubur semua masa lalunya yang kelam. Ia telah mendapatkan ridha suaminya.
Kenapa tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hambanya, apa semua kesedihan ini kurang menyakitkan? Orang-orang yang memiliki tujuan hidup, maka dia tidak akan pernah bertanya soal ini. Baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah tempaan, harga tujuan tersebut. Semua orang bisa mendefinisikan tujuan hidupnya, istri Ray ingin ridhanya, seorang anaknya berhasil, menjadi dokter, insinyur, itu semua tujuan hidup. Tidak peduli secuil apapun itu, yang penting mereka bersungguh-sungguh melakukannya. Membuatnya nyata.

Hidup terasa hampa, kosong?
Ternyata semua yang Ray miliki tidak pernah memberikan kebahagiaan seperti yang Ray dapatkan selama enam tahun bersama istrinya, padahal setelah istrinya meninggal Ray memiliki segalanya. Ray terjebak keinginan-keinginan dunia. Dia mencintai dunia persis seperti sekerumunan orang-orang lainnya yang amat keterlaluan mencintainya. Dan lazimnya para pecinta dunia itu, maka sungguh dia tidak akan pernah terpuaskan oleh yang bisa disediakan dunia. Ray berpikir setelah mendirikan gedung tertinggi maka akan merasa lelah, cukup, bahkan puas. Ray tidak akan pernah menemukannya disana. Ray hanya akan menemukan kekosongan, hampa.
Padahal ada seseorang yang hatinya amat berkilau oleh perasaan cukup. Dan orang itu adalah istrinya sendiri. Istrinya pernah berkata: “Aku baik-baik saja, ceroboh. Aku senang mendengarnya. Amat senang. Tapi aku tidak membutuhkan itu semua. Rumah besar, mobil, berlian. Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup.”

Kenapa Ray harus mengalami sakit berkepanjangan? Kenapa takdir sakit itu mengungkungnya?
Ketika merasa hidup ini menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika merasa hidup sangat menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung. Dengan begitu kau akan selalu pandai bersyukur.
Suatu malam ketika Ray akan menuju ke rumah sakit menemui Vin yang sekarat, disaat hampir saja melewati perempatan menuju lokasi bangunan panti, Ray membanting stir kemudi. Dia memutar arah, lantas meneruskan perjalanan.
Malam itu Ray tahu hampir bertabrakan dengan mobil yang melaju tidak kalah kencangnya di sisi yang lain. Mobil yang hampir menabrak Ray itu membanting stir dan oleng tidak terkendali lantas menghantam jeruji besi yang menyeruak dari tepi jalan. Sementara Ray sudah melesat pergi.
Bagian depan mobil itu hancur, dua orang di dalamnya terjepit, sepasang suami-istri. Ray tidak sakit berkepanjangan selama enam tahun karena menyebabkan kematian sepasang suami-istri itu. Tetapi lebih disebabkan oleh seorang bayi yang dikandung perempuan di dalam mobil tersebut. Mayat perempuan itu buncit. Ia sedang mengandung.
Bayi itu terselamatkan, seorang gadis, lahir berdarah-darah sehari setelah kecelakaan. Terlahir yatim piatu. Gadis kecil itu lebih menyakitkan dan Raylah penyebabnya.

Sumber: Novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu Karya Tere Liye

Jangan lupa untuk beli novelnya ya.... Saya jamin sobat sekalian akan merasa puas setelah membaca novel-novel karya Tere Liye.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar